Ruhendi.Com

“…Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup & Kehidupan Seorang Manusia Biasa Bernama Heru”

Sosialisasi dan Kehidupan Bertetangga, Sebuah Ironi…

Dalam banyak hadits dan keterangan, Rasululloh telah mengajarkan dan memberikan contoh tentang akhlak dan adab yang agung dalam kehidupan bertetangga. Hal ini jelas menunjukan bahwa kehidupan bertetangga memiliki arti yang cukup dalam dan memiliki kedudukan yang penting baik dalam dakwah, ibadah maupun muamalah kita.

Sesungguhnya, sebelum bersentuhan dengan orang lain semisal keluarga kita sendiri sekalipun tapi posisinya berjauhan dengan kita, tentunya tetangga yang pertama akan tahu dan langsung berinteraksi dengan kehidupan kita.

Ini akan selalu kita junjung tinggi… Tapi tentunya ini semua harus dengan tata cara yang syar’i. Lantas sebuah ironi terjadi, jika tata cara bertetangga dan bergaulnya tetangga kita kurang “NYUNNAH” bahkan mungkin bisa dibilang “SEMRAWUT’, apa yang harus kita perbuat ?

Kita pasti yang akan selalu dijadikan kambing hitam gunjingan mereka, bahkan cibiran dan cemoohan mereka. Tentunya dimanapun sama, kata-kata seperti ini yang akan selalu keluar menanggapi sikap kita terhadap mereka “Dasar Ibu/ Bapak Fulan/ Fulanah ini tidak bisa bersosialisasi”.

He… He… He…, sungguh ini sebuah ironi.
Apakah yang kita tidak ikut begadang sampai dini hari lantas kita disebut sebagai yang tidak ikut bersosialisasi ???
Apakah karena kita tidak ikutan yasinan tiap malam jumat, tidak pernah ikut tahlilan dan tidak pernah ikutan acara-acara mereka yang bid’ah dholalah,  lantas kita disebut orang yang tidak pandai bersosialisasi ???
Apakah karena dzohir penampakan kita berbeda, dengan jenggot, celana ngatung, kebiasaan berghamis/ berjubah dan istri bercadar, berhijab lengkap dan berpakaian syar’i, lantas kita di cap sebagai manusia aneh yang tidak bisa bersosialisasi dengan lingkungan ???

Hmmmm… Apakah dengan istri-istri kita berdiam di rumah dalam rangka menjaga amanah suami-suaminya, menjaga kehormatan diri dan keluarganya, tidak hadir dalam acara pergunjingan/ pergosipan/ percandaan dan hal-hal lain yang semisal yang lumrah terjadi di antara mereka, lantas istri-istri kita disebut sebagai orang yang tidak bisa bersosialisasi ???

Ironi ini…., benar-benar sebuah ironi

Subhanalloh…
Kenapa kejahilan seperti ini terjadi ?
Kenapa mereka tidak pernah berkaca ? Seharusnya mereka menegur diri-diri mereka terlebih dahulu…
Perbaiki pola dan tata cara keseharian mereka agar kita yang punya sikap ini bisa dengan sepenuh hati dan ikhlas berada di dalamnya, mengikuti dan mengamalkan tata cara bertetangga dan bersosialisasi sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasululloh…
Janganlah hal-hal bid’ah dhollalah membutakan kalian untuk tidak pernah ke masjid/ mushola untuk mengerjakan sholat jamaah yang WAJIB…

Ini sebuah ironi, inikah yang kalian maksud sebagai yang bagus dalam bersosialisasi ???
Dengan tidak ke masjid tapi yasinan bergiliran di rumah-rumah kalian dan mengerjakan sholat wajib di rumah-rumah kalian dengan tidak menggubris adzan tapi mengobrol, tertawa terbahak terus dan begadang sampai larut ???

Bersosialisasi dalam hal muamalah biasa, kerja bhakti sosial, sekedar duduk sebentar, sillaturahmi dan yang semisal dengan itu, tentu akan kita junjung tinggi, tapi jika harus mengikuti cara-cara kalian yan seperti ini dan itu… MOHON MAAF KAMI TIDAK BISA.

Dakwah kita akan terus berjalan (Insyaalloh dengan hikmah dan bijaksana), sampai kapanpun…, biarpun kalian akan terus mencibir, terus mengolok dn tidak menggubrisnya…

Semoga kalian mengerti ironi yang terjadi ini…

Filed under: Curhat, Story, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: