Ruhendi.Com

“…Sepenggal Kisah Perjalanan Hidup & Kehidupan Seorang Manusia Biasa Bernama Heru”

Ketika Harus Memilih

Seringkali kita merasakan sesuatu yang mungkin sangat dilematis, ketika harus memutuskan dan menjatuhkan pilihan apakah ya atau tidak, maju atau tidak, dan seterusnya. Tidak jarang pula penyesalan datang ketika pilihan yang kita jatuhkan salah dan menghasilkan sesuatu yang diluar dugaan dan kehendak kita.

Lantas, apakah kita mesti takut untuk memilih? Apakah kita mesti takut untuk memutuskan? Tidak, kita tidak seharusnya takut menjatuhkan pilihan dan mengambil keputusan, karena sesungguhnya itu bisa menunjukan kematangan pribadi kita. Tidak usah takut keliru, karena sesungguhnya kalau tidak berusaha mencoba ya mana bisa kita mengoreksinya. Tapi juga, jangan sesekali pernah  berpikiran untuk sembrono  dan  menganggap enteng setiap  permasalahan  yang kita hadapi.  Karena sesungguhnya, berawal dari  sinilah kesombongan dan rasa takabur  itu muncul.

Seandainya sesekali kita keliru dalam mengambil keputusan, maka itu wajar saja karena sebagai manusia ya tentulah tempatnya khilaf, tapi kalau selamanya salah dan keliru tentu itu menjadi pertanda orang yang sangat merugi, tidak bisa mengambil ibrah dari kejadian dan pengalaman yang terdahulu.

Ehm…ehm…, sebenarnya itu adalah permulaan dari kisah yang ingin saya tulis tentang sisi kehidupan yang harus dihadapi. Banyak sekali hal yang menuntut kemampuan teknis dan non teknis yang mesti kita kuasai, dan kadang terbentur dengan kejadian seperti yang saya ceritakan diawal tulisan ini… Kita harus Memilih, he3…

Ketika kita lulus sekolah, mungkin semua sama dihadapkan pada beberapa pilihan, melanjutkan lagi pendidikan ke jenjang berikutnya, bekerja, menikah atau bahkan pilihan untuk menganggur saja. Semuanya sungguh membingungkan, apalagi ketika memang kita sama sekali tidak memiliki kemampuan, baik secara financial maupun kemampuan dan keterampilan individu.

Lantas, tidak cukup sampai disana, ketika pilihan sudah diambil. Maka kita pun tetap harus menjatuhkan pilihan, sebagai contoh ketika pertama kali mendapatkan panggilan pekerjaan, setiap orang pasti akan dihadapkan pada dua pilihan, dengan berbagai alasan dan analisa masing-masing, pilihan harus dijatuhkan apakah menerima panggilannya atau mengabaikannya. Ketika pilihan sudah dijatuhkan, semua orang akan dihadapkan pada dua kemungkinan, merasa cocok dengannya atau sama sekali tidak dan bahkan mungkin juga ada penyesalan (ini sebaiknya tidak terjadi). Andaikan memang merasa kurang atau tidak cocok, anggaplah kalau itu sebagai ajang pembelajaran dan proses pematangan pribadi kita, tidak perlu disesali.

Selanjutnya…

Di setiap segi kehidupan, baik di lingkungan keluarga, teman sejawat, dunia kerja dan bahkan lingkungan yang kita anggap di luar kita pun, mungkin selalu ada beberapa pilihan di hadapan kita. Kita harus memilih, kita harus memutuskan dan kita tidak boleh takut ketika kita harus melakukannya. Ingat, kematangan diri kita salah satunya mungkin ditempa dengan cara seperti itu.

Berbicara masalah kematangan diri, sebenarnya susah untuk diukur. Setiap orang akan berbeda, tidak bisa dibandingkan. Mungkin bagi saya, ketika ada perubahan sikap yang lebih baik antara sewaktu masih bujang dengan saat sudah menikah, saya sudah anggap sudah mulai menemukan kematangan dalam diri saya. Tapi itu tidak menurut yang lain, mungkin itu bukan merupakan tolok ukur kematangan diri. Ya itulah, makanya saya bilang di awal bahwa bicara masalah kematangan diri susah-susah gampang. Setiap orang akan selalu berbeda dan tidak bisa dibandingkan antar satu dengan lainnya.

Tapi dapat dijadikan sebagai acuan, bahwa ketika ada perubahan yang baik, yang signifikan dan dinamis, maka seseorang mungkin bisa dikatakan mulai menemukan kematangan diri/ pribadi.

Kematangan/ kedewasaan kita sangat dibutuhkan dalam menghadapi setiap sisi kehidupan, ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan tertentu, situasi tertentu dan kondisi yang mungkin diluar kendali kita. Akanlah sangat berbeda hasil yang diperoleh, ketika sesuatu dilaksanakan oleh pribadi yang sudah matang dengan yang masih bau kencur (dalam cara dan pola berpikir juga kelihatan bedanya). Dan perlu diingat, dalam hal ini usia tidak bisa dijadikan sebagai ukuran. Usia lebih tua belum bisa jadi jaminan bahwa seseorang lebih matang dari yang usianya jauh lebih muda darinya. Maka, selalu berusaha untuk menempa diri masing-masing, jangan pernah berhenti… Diakhir nanti, ketika kita harus memilih sesuatu, kita akan selalu tepat, cepat dan akurat.

OK, sementara sampai disini dulu ceritanya… memang sih belum sampai ke substansi yang sebenarnya, masih jauh dan masih panjang… Tapi paling nggak ada sedikit yang bisa dijadikan pelajaran, bahwasanya kematangan dan kedewasaan diri sangatlah besar pengaruhnya terhadap kemajuan dan kesuksesan seseorang.

Insyaalloh akan selalu bersambung, karena ceritanya akan selalu berkembang seiring perjalanan hidup yang kita alami.

Filed under: Curhat, Story, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: